仓场
2019-05-22 02:49:06
发布时间:2017年9月16日上午9:39
更新时间:2017年9月16日上午9:39

ILUSTRASI。 Petugas pemadam kebakaran berusaha memadamkan api yang membakar sebuah pabrik plastik di Desa Telukan,Grogol,Sukoharjo,Jawa Tengah,Selasa(2/5)。 Foto oleh Mohammad Ayudha / ANTARA

ILUSTRASI。 Petugas pemadam kebakaran berusaha memadamkan api yang membakar sebuah pabrik plastik di Desa Telukan,Grogol,Sukoharjo,Jawa Tengah,Selasa(2/5)。 Foto oleh Mohammad Ayudha / ANTARA

BANDUNG,Indonesia - Kabar duka kembali datang dari Dinas Kebakaran dan Penanggulangan Bencana(DKPB)Kota Bandung yang kehilangan satu lagi anggotanya。 Imam Taufik Hidayat,petugas DKPB Kota Bandung menghembuskan nafas terakhirnya pukul 05:05 WIB,Jumat,2017年9月15日。

Iman sempat menjalani perawatan di RS Hasan Sadikin Bandung,selama 4 hari。 Kondisi pria 33 tahun itu kritis setelah tubuhnya tertimpa tembok bangunan CV Sandang Saritex yang terbakar。 Sementara rekan Imam,Triesna Supriatna(35岁),tewas di tempat kejadian。

Kedua petugas DKPB Kota Bandung itu tengah mengantarkan makanan dan minuman bagi petugas yang masih melakukan proses pendinginan pasca kebakaran yang melalap gudang penyimpanan kain yang berlokasi di Jalan AH Nasution Kota Bandung,Senin,2017年9月11日.Saat melewati sisa-sisa bangunan yang terbakar itu, tiba-tiba tembok runtuh menimpa mereka。

Kepergian dua anggotanya meninggalkan duka mendalam bagi keluarga DPKB Kota Bandung。 Kepala Dinas DPKB Kota Bandung,Ferdi Ligaswara mengungkapkan rasa kehilangan atas gugurnya dua petugas terbaiknya。

“Tentu saja kami sangat kehilangan。 Mereka putra terbaik kami,“kata Ferdi kepada Rappler melalui sambungan telefon pada Jumat。

Ferdi memastikan,kematian dua anak buahnya bukan karena adanya kelalaian dalam menjalankan standar operasi prosedur(SOP)pengamanan,tapi lebih karena takdir。 Ia bisa menyatakan itu sebab menjalankan SOP pengamanan menjadi kewajiban bagi seluruh anggotanya。

“Setiap apel,setiap rapat,简报pasukan,kami sudah mengamanahkan untuk selalu saling mengingatkan,untuk sesuai prosedur。 Tapi kalau kehendak Allah lain itu yang terjadi,“ujarnya。

Bagi Ferdi,kehilangan dua prajuritnya sangat terasa di saat instansinya sedang mengalami kekurangan sumber daya manusia。 Kejadian itu juga mengingatkan Ferdi akan minimnya perlengkapan dan alat penunjang penyelamatan kebakaran dan penanggulangan bencana di dinasnya。

Ferdi menyebutkan,secara kualitas dan kuantitas perlengkapan dan alat penunjang petugas pemadam kebakaran di dinasnya sangat minim。 Seperti,Self Contained Breathing Asparatus(alat bantu pernafasan saat memadamkan kebakaran),防火夹克,消防救援靴,dan snorkel(mobil pemadam kebakaran yang membawa tangga otomatis。

“呼吸Asparatus sangat kurang。 Kita baru punya sembilan,harusnya paling tidak 30 untuk satu regu。 防火夹克harusnya kita punya 200 lebih。 Tangga di snorkel kita hanya 30米tingginya。 Jadi kalau ada kebakaran di ketinggian 90米,kita hanya bisa dadah-dadah saja,“kata Ferdi。

Ferdi berharap pemerintah dan DPRD Kota Bandung menambah anggaran yang dialokasikan untuk memperbaharui perlengkapan dan alat penunjang di dinasnya。 Ferdi mengaku heran,anggaran yang diajukan dinasnya selalu dipangkas。

“Jadi banyak dipangkas anggarannya。 Setiap pengajuan banyak yang didelete。 Makanya saya suka marah-marah kalau lagi rapat。 Jadi jangan hanya pembangunan atau program-program yang seksi saja,dinas kita juga harus lebih kuat perlengkapannya,“tuturnya。

Untuk sebuah kota besar,Ferdi menilai,sarana prasana yang dimiliki DKPB Kota Bandung masih jauh dari yang diharapkan。 Ferdi berharap bisa memperbaiki dan melengkapi sarana prasarana yang ada,tapi kemampuan anggaran yang terbatas membuat pembelian alat berdasarkan skala prioritas。

“Oleh karena itu,kami berharap ada perhatian lebih karena Dinas Pemadam Kebakaran dan Penanggulangan Bencana adalah参数sebuah kota besar。 Apalagi yang ingin kami miliki bukan sekedar kebutuhan kami tapi kembali untuk masyarakat,“pungkas Ferdi。 - Rappler.com