言窭捩
2019-05-22 07:25:28
发布时间:2017年9月8日下午6:53
2017年9月8日下午6:53更新

罗兴亚人。 Aksi teatrikal etnis Rohingya yang ditampilkan di titik nol Banda Aceh pada Kamis,9月7日。 Foto oleh Habil Razali / Rappler

罗兴亚人。 Aksi teatrikal etnis Rohingya yang ditampilkan di titik nol Banda Aceh pada Kamis,9月7日。 Foto oleh Habil Razali / Rappler

BANDA ACEH,印度尼西亚 - Senja hampir tenggelam,saat beberapa warga Rohingya tengah tekun bekerja。 Tiba-tiba sekolompok militer缅甸bersenjata datang menyerang mereka。

Perlakuan kasar mereka terima。 Ditendang atau ditembak seakan tiada henti。 Warga Rohingya pasrah tak mampu melawan。

Sebagian warga Rohingya kemudian memilih meninggalkan desa mereka dan lari。 Mengguunakan sebuah perahu kecil,mereka mendayung menuju ke lautan luas。 Bagi mereka,terjangan ombak di perahu kecil sangat aman dibanding terjangan peluru di rumah sendiri。

Keberingasan militer缅甸ternyata tidak hanya di desa。 Begitu mengetahui ada sebagian warga Rohingya hendak melarikan diri dari desa,militer langsung menghujam senjata。 Rentetan timah panas menghujani upaya evakuasi warga Rohingya dari Tanah Airnya sendiri。

Sayang,ada beberapa warga yang sudah terenggut nyawanya sebelum tiba di perahu kecil。

Sementara,mereka yang selamat dan berhasil naik ke perahu,terombang-ambing di tengah gulungan ombak dan didera kelaparan hebat。

Warga Rohingya akhirnya tiba di sebuah pantai。 Senyuman tampak dari wajah mereka。 亚齐,sebuah negeri di ujung Pulau Sumatera ternyata menjadi tempat mereka terdampar。 Ini merupakan kali pertama mereka berlabuh usai terusir dari Tanah Airnya sendiri。

Begitulah teatrikal yang diperankan oleh Rohingya di titik nol Kota Banda Aceh的团结。 Aksi teatrikal itu dilakukan di pinggir pantai Desa Gampong Jawa,Banda Aceh pada Kamis kemarin,9月7日。

Massa dari berbagai unsur masyarakat Aceh menggelar aksi teatrikal terkait pembantaian warga etnis Rohingya hingga akhirnya mereka terdampar di bumi Serambi Mekkah。

Orasi juga sempat disampaikan secara bergantian oleh perwakilan peserta。 Kegiatan teatrikal kemudian ditutup dengan pembacaan puisi。

“Aksi ini memang untuk menegaskan bahwa pembantaian ini harus dihentikan.Kami tidak ingin etnis Rohingya semakin lama semakin dibantai,”kata Koordinator Aksi,Teuku Muhammad。

Bahkan,menurut Teuku,masyarakat亚齐siap menampung kembali warga Rohingya seperti yang terjadi pada tahun 2015. Saat ini,para pengungsi Rohingya dipindahkan oleh pemerintah ke Belawan,Sumatera Utara。

Peserta aksi juga meminta beberapa lembaga internasional seperti PBB dan Organisasi Konferensi Islam(OKI)agar melakukan tindakan konkret dalam menangani masalah genosida etnis Rohingya。

“Tuntut pelaku kejahatan kemanusiaan etnis Rohingya ke Mahkamah Internasional atas dasar pelanggaran HAM berat,”kata Teuku。

Siap berbagi pengalaman

Sementara,Gubernur Aceh,Irwandi Yusuf mengatakan siap berbagi pengalaman dengan Pemerintah缅甸dalam membantu mewujudkan perdamaian di wilayah Rakhine。 Irwandi mengatakan antara亚齐丹Rakhine pernah berada dalam situasi serupa。

亚齐pernah mengalami konflik bersenjata selama 30 tahun dan berada di bawah status Daerah Operasi Militer selama kurang lebih 15 tahun。

“亚齐bersedia untuk berbagi pengalaman dengan Pemerintah缅甸dan membantu mewujudkan perdamaian di wilayah Rakhine,”kata Irwandi dalam keterangannya。

Pengalaman konflik bersenjata di Aceh,kata Irwandi,justru membawa kemudaratan dan kemunduran yang besar terhadap kebudayaan,sosial dan ekonomi。 Bahkan,situasi itu memberi luka mendalam bagi para korban yang kebanyakan merupakan warga sipil。

Untuk itu,Pemda Aceh meminta kepada Pemerintah Myanmar untuk menahan diri secara maksimal dengan tidak menggunakan cara-cara kekerasan。 Irwandi juga meminta agar segera menghentikan Operasi Militer di wilayah Rakhine。

Alih-alih menggunakan cara militer,Pemerintah Myanmar dapat memulai proses stabilisasi politik dan peace-building antara warga Rakhine dan Muslim Rohingya。

Pemerintah缅甸perlu menggandeng PBB,东盟,dan Organisasi国际lainnya dalam memulai散建和平建设dan membuka diri sebagai wujud komitmen pemerintah dalam penegakan Hak Asasi Manusia(HAM)dan demokrasi。

“Segala upaya untuk mencegah konflik harus dilakukan untuk menjaga kestabilan politik di regional ASEAN,mengingat beberapa negara ASEAN dan komunitas masyarakat Muslim sudah bereaksi keras terkait kekerasan bersenjata di wilayah Rakhine,”kata Irwandi。 - Rappler.com