仓场
2019-05-22 13:16:26
2017年9月5日下午5点29分发布
2017年9月5日下午5:30更新

Penampakan embun beku yang turun di Dieng pada puncak musim kemarau。 Foto oleh Irma Mufklifah / Rappler

Penampakan embun beku yang turun di Dieng pada puncak musim kemarau。 Foto oleh Irma Mufklifah / Rappler

BANJARNEGARA,印度尼西亚-Kemunculan embun beku atau bun upas di dataran tinggi Dieng Banjarnegara Jawa Tengah menjadi fenomena alam yang langka namun menarik。

Bun upas,yang dalam bahasa masyarakat setempat berarti embun beracun,sesekali muncul di puncak musim kemarau di Dieng。

Pada musim kemarau 2017 ini,misalnya,bun upas sudah muncul dua kali pada awal September。 Hal ini diungkapkan Kepala Desa Dieng Kulon Slamet Budiono。

Menurut Slamet,bun upas pertama kali muncul bertepatan dengan势头Iduladha,yakni pada Jumat 2017年9月1日。

Kemunculan embun beku itu diawali dengan datangnya kabut tebal dengan hawa dingin yang menusuk,Kamis malam,31 Agustus 2017。

Warga melawan dingin dengan memakai pakaian lebih tebal dari biasanya,lengkap dengan kaus kaki,sarung tangan dan topeng kain di wajah。

“Saat itu memang dingin banget.Ada kabut tebal lalu hilang,lalu muncul lagi.Paginya embun-embun sudah beku,”katanya。

Warga yang hendak melaksanakan salat Iduladha kala itu dikejutkan dengan kemunculan bun upas。

Embun yang menyelimuti rerumputan dan tanaman hijau berubah jadi butiran kristal es。 Padang rumput hijau di lapangan berubah putih kemilau bak salju di negeri empat musim。

Butiran embun beku itu menjadi pemandangan eksotis kala matahari pagi memantulkan cahayanya hingga membuatnya berkilauan。

Tak hanya padang rerumputan,tanaman pertanian warga juga tak luput dihinggapi bun upas。

Fenomena langka itu rupanya juga dinantikan oleh para wisatawan。 Sayang,kemunculan bun upas tak bisa diprediksi waktunya。

Hanya wisatawan yang kala itu berada di Dieng lah yang beruntung bisa menyaksikan dan mengabadikan fenomena alam yang muncul sesekali dalam setahun itu。

“Bagi wisatawan yang ingin melihat bun upas silakan ke Dieng.Kalau beruntung,mereka bisa lihat karena munculnya gak tentu,”katanya。

Bun upas di rerumputan dan tanaman pertanian warga Dieng Batur Banjarnegara Jawa Tengah membeku jadi butiran kristal es。 Foto oleh Irma Mufklifah / Rappler

Bun upas di rerumputan dan tanaman pertanian warga Dieng Batur Banjarnegara Jawa Tengah membeku jadi butiran kristal es。 Foto oleh Irma Mufklifah / Rappler

Awal 9月ini,menurut Slamet,adalah waktu tepat bagi kemunculan bun upas karena cuaca sedang memasuki puncak kering。

Ia memperkirakan,bun upas masih bisa muncul lagi jika kemarau masih berkelanjutan tanpa ada hujan atau gerimis。

Bun upas kedua kalinya muncul pada Sabtu 2017年9月2日.Tingkat kebekuan waktu itu bahkan lebih tinggi di banding hari sebelumnya。 “Semakin减去derajat,semakin beku dan bun upasnya semakin tebal,”katanya。

Kepala Pos Pengamatan Gunung Api Dieng,Pusat Vulkanologi Mitigasi Bencana Geologi(PVMBG),Surip menjelaskan,bun upas terjadi pada suhu beku di bawah 0 derajat。

Pada suhu yang lebih tinggi,sampai 3 derajat celcius,bun upas masih dimungkinkan muncul tipis karena tingkat kebekuan kurang。

Surip memperkirakan,setelah kemunculannya pada tanggal 1 dan 2 September lalu,bun upas kemungkinan kecil terjadi lagi。 Pasalnya,ia melihat di wilayah bawah dataran tinggi Dieng,Wonosobo sudah mulai turun hujan。

Sementara kemunculan bun upas biasanya ditandai musim kering berkepanjangan tanpa diselingi hujan。

“Kalau wetak bun upas ke manusia tidak ada.Paling dampaknya ke tanaman petani,jadi mati,”katanya。

Merusak 8 hektar tanaman kentang

Bun upas menutupi rerumputan dan tanaman pertanian warga Dieng Batur Banjarnegara Jawa Tengah。 Foto oleh Irma Mufklifah / Rappler

Bun upas menutupi rerumputan dan tanaman pertanian warga Dieng Batur Banjarnegara Jawa Tengah。 Foto oleh Irma Mufklifah / Rappler

Kemunculan bun upas di Dieng menjadi magnet tersendiri bagi wisatawan karena melahirkan pemandangan yang menawan。

Namun di balik kecantikannya,bun upas ternyata menjadi momok bagi petani di Dieng。 Sebagaimana penamaannya,bun upas dianggap embun beracun yang bisa mematikan tanaman pertanian warga,terutama kentang。

Penyuluh Pertanian Lapangan(PPL)Kecamatan Batur Banjarnegara Agus Rifai mengatakan,akibat bun upas pada tanggal 1 dan 2 September lalu,sebanyak 8 hektar tanaman kentang warga rusak。

Tanaman yang masih berumur di bawah satu bulan dipastikan mati。 Sementara tanaman berusia di atas 40 hari rusak namun tak sampai mati。

Agus menjelaskan,jaringan tanamam yang terkena bun upas menjadi beku kemudian leleh atau pecah saat terkena sinar matahari。 “Yang kena bun upas pucuknya gosong,kering terus mati,”katanya。

Sebagian petani terpaksa menanggung rugi lantaran harus mengganti tanaman mereka yang telah mati karena bun upas dengan bibit baru。

Menurut Agus,kemunculan bun upas tidak bisa diprediksi oleh petani。 Karena itu,mereka tidak bisa menjadwalkan musim tanam untuk menghindari kemunculan bun upas。

Kemunculan bun upas juga tidak merata di semua tanaman petani,hanya di wilayah tertentu yang juga tidak bisa diprediksi。

Dari 100 hektar lahan tanaman kentang milik warga Dieng misalnya,hanya 8 hektar di antaranya saat ini yang terkena bun upas。

“Seperti saat ini yang kena kan di daerah yang tanahnya rata。Di lahan miring warga tidak ikut kena,”katanya。

Petani hanya bisa beradu nasib dan pasrah soal kemunculan bun upas ini。 Masalahnya,musim kemarau menjadi动力paling tepat bagi para petani untuk bercocok tanam kentang。

Menanam di musim kemarau dianggap bagus lantaran serangan penyakit tanaman berkurang seiring dengan menurunnya tingkat kelembaban udara。

Karena itu,mereka rela merogoh kocek dalam guna membeli air untuk menyiram tanaman mereka karena tanah kering tiada hujan。

“Menanam di musim kemarau jarang penyakitnya.Makanya petani senang menanam waktu itu.Nah,musuhnya adalah bun upas,kalau kena ya itu nasib,”katanya。

Kemunculan bun upas layaknya bencana alam bagi petani。 Tidak ada obat atau teknologi untuk mencegah atau memulihkan tanaman yang mati terkena bun upas。

Tahun lalu,2016,kata Agus,sebanyak 10 hektar tanaman kentang warga Dieng mati atau gagal panen karena terkena bun upas。

Selain kentang,tanaman lain yang rawan mati terkena bun upas,menurut Agus,adalah cabe dan tanaman buah carica。 Pohon carica gagal berbuah jika bunga tanaman itu beku diselimuti bun upas。 -Rappler.com