真皙
2019-05-22 09:52:32
2017年8月31日下午2:53发布
2017年8月31日下午2:53更新

印度尼西亚BANDUNG - Jaksa Penuntut Umum(JPU)Kejari Tasikmalaya menuntut terdakwa Asep Saepuloh yang mencabuli 3 anak kandungnya dengan hukuman 19 tahun penjara。

Warga Kampung Cigolong Desa Singasari Kecamatan Taraju Kabupaten Tasikmalaya itu juga dituntut membayar denda sebesar Rp 200 juta subsider 1 tahun penjara。

“Itu sudah maksimal tuntutan tersebut,”kata Siti Halimatun,Jaksa Pertama JPU saat dihubungi Rappler,Kamis 31 Agustus 2017。

Tuntutan itu disampaikan JPU saat persidangan yang berlangsung tertutup di Pengadilan Negeri Kelas 1A Tasikmalaya,Jalan Siliwangi Tasikmalaya,Rabu 30 Agustus 2017。

Siti menjelaskan,tuntutan itu merujuk pada Pasal 81 ayat 3 Undang-undang Perlindungan Anak No 35 tahun 2014.Dalam pasal tersebut,hukuman maksimal yang dijatuhkan pada terdakwa adalah 20 tahun penjara dan denda paling banyak Rp 5 miliar。

“Dendanya kan Rp 200 juta subsider 1 tahun penjara,jadi kalau terdakwa tidak bisa membayar,hukumannya bisa 20 tahun penjara dan itu sudah hukuman maksimal bagi terdakwa sesuai Pasal 81 ayat 3,”kata Siti。

Pasal itu juga yang menjadi alasan JPU tidak menuntut vonis kebiri bagi Asep Saepuloh。 Tuntuntan vonis kebiri,menurut Siti,harus ada unsur pidana lain seperti yang tercantum dalam Pasal 81 ayat 5,yakni menimbulkan korban lebih dari 1(satu)orang,mengakibatkan luka berat,gangguan jiwa,penyakit menular,terganggu atau hilangnya fungsi reproduksi,dan / atau korban meninggal dunia。

“Dalam kasus AS ini,korbannya memang lebih dari satu orang,tapi unsur pidana lainnya tidak terpenuhi。 Alhamdulillah anak-anaknya yang menjadi korban tidak mengalami hal-hal lain yang disebutkan dalam pasal itu。 Meski创伤,Alhamdulillah anak-anaknya tidak mengalami gangguan jiwa,sehingga bisa secara gamblang dan lancar menjelaskan apa yang diperbuat AS pada diri mereka,“kata Siti lagi。

Kasus pencabulan Asep Saepuloh ini memang dianggap luar biasa sehingga memunculkan tuntutan vonis kebiri kepada pria yang mencabuli anak sekaligus cucu kandungnya ini。

Tuntutan itu salah satunya disuarakan Komisi Perlindungan Anak Indonesia Daerah(KPAID)Tasikmalaya。 Ketua KPAID Tasikmalaya,Rinanto,mengaku sejak awal mendorong majelis hakim untuk menjatuhkan vonis kebiri kepada Asep Saepulloh。

Menanggapi JPU yang tidak menyertakan vonis kebiri dalam tuntutannya,Rinanto menyerahkan sepenuhnya kepada keputusan hakim。 “Itu kan tuntutan jaksa,keputusan ada di hakim。 Kami berharap hakim untuk menjatuhkan vonis kebiri,“katanya。

Berlansung selama bertahun-tahun

Perbuatan cabul Asep pertama-tama dilakukan terhadap NWN,putri kandungnya yang saat itu berusia 13 tahun。 Selama bertahun-tahun,pencabulan yang disertai kekerasan itu terjadi,sehingga NWN melahirkan 4 orang anak,yaitu F,A,D,dan AN。 A dan D kemudian diadopsi,sedangkan F dan AN tinggal bersama NWN dan Asep。

Pada 2010,NWN menikah dan tinggal bersama suaminya yang berinisial W di Indihiang Tasikmalaya。 Setelah pernikahan itu,Asep menyalurkan nafsu bejatnya ke F(13)yang merupakan anak sekaligus cucu kandungnya。

Hasil visum membuktikan selaput F telah rusak。 Bahkan,berdasarkan pengakuan F,ia dianiaya terlebih dahulu sebelum digauli Asep。

AN yang duduk di kelas 4 SD juga tak luput dari perbuatan biadab Asep。 Bocah perempuan 8 tahun itu mengalami trauma karena disuruh melakukan perbuatan tak senonoh oleh Asep。

Kasus ini terungkap saat F dan AN kabur ke rumah NWN。 Mereka mengadukan perbuatan Asep kepada NWN dan W yang langsung melaporkan kejadian itu ke polisi。 -Rappler.com